Pendekatan EMOSIONAL Anak dan guru serta orang tua

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan pendekatan emosional dalam pembelajaran anak usia 5-6 tahun. Pendekatan emosional menekankan pada penciptaan lingkungan belajar yang hangat, penuh empati, dan responsif terhadap kebutuhan emosional anak. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan empat orang guru (termasuk kepala sekolah), serta studi dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Guru memahami pendekatan emosional sebagai upaya membangun kedekatan dengan anak melalui komunikasi yang aktif dan responsif, yang diposisikan setara pentingnya dengan aspek kognitif; (2) Strategi pendekatan emosional yang diterapkan meliputi kegiatan pembukaan yang menyenangkan (bernyanyi, bertepuk), pendampingan individual bagi anak berkebutuhan khusus, komunikasi dua arah yang intensif, serta pemanfaatan APE yang bervariasi; (3) Tantangan utama yang dihadapi guru adalah keberagaman karakteristik anak termasuk kehadiran anak inklusi dalam kelas reguler; (4) Dampak positif pendekatan emosional terlihat pada peningkatan kemampuan regulasi emosi anak, perilaku prososial seperti kesabaran dan kemauan berbagi, serta keterlibatan aktif dalam pembelajaran. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan emosional telah diterapkan secara efektif di TK dan berkontribusi signifikan terhadap perkembangan emosional dan keberhasilan pembelajaran anak.

Kata Kunci : pendekatan emosional, pembelajaran anak usia dini, perkembangan emosional, 



ABSTRACT

This study aims to analyze the implementation of emotional approach in learning for children aged 5-6 years. The emotional approach emphasizes creating a warm, empathetic, and responsive learning environment that addresses children's emotional needs. This research employed a qualitative method with a descriptive approach. Data collection techniques included participant observation, in-depth interviews with four teachers (including the principal), and documentation study. Data analysis used Miles and Huberman's interactive model encompassing data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that: (1) Teachers understand emotional approach as an effort to build closeness with children through active and responsive communication, positioned as equally important as cognitive aspects; (2) Emotional approach strategies implemented include enjoyable opening activities (singing, clapping), individual mentoring for children with special needs, intensive two-way communication, and utilization of varied educational play tools; (3) The main challenge faced by teachers is the diversity of children's characteristics, including the presence of inclusive children in regular classes; (4) Positive impacts of emotional approach are evident in improved children's emotion regulation abilities, prosocial behaviors such as patience and willingness to share, and active engagement in learning. This study concludes that emotional approach has been effectively implemented in early childhood education and contributes significantly to children's emotional development and learning success.

Keyword:  emotional approach, early childhood learning, emotional development, early childhood education



PENDAHULUAN

Pendidikan anak usia dini merupakan fondasi penting dalam membentuk kualitas sumber daya manusia di masa depan. Pada masa ini, anak berada pada fase perkembangan yang sangat pesat, sering disebut juga dengan golden age, di mana stimulasi yang tepat akan berpengaruh signifikan terhadap perkembangan fisik, kognitif, bahasa, sosial, dan emosional anak (Sujiono, 2013). Keberhasilan dalam memberikan stimulasi pada masa ini akan menjadi landasan bagi keberhasilan anak di jenjang pendidikan selanjutnya dan kehidupan sosialnya di masa dewasa.

 

Perkembangan emosional merupakan salah satu aspek perkembangan yang sangat menentukan kualitas hidup anak di masa depan. Menurut Sukatin dkk. (2020), perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan, sedangkan emosi adalah suatu keadaan atau perasaan yang bergejolak dalam diri individu. Kecerdasan emosional memiliki peran yang tidak kalah penting dibandingkan kecerdasan intelektual dalam menentukan keberhasilan anak. Cresensius dan Anselmus (2018) menegaskan bahwa kecerdasan emosional sangat penting untuk keberhasilan anak dalam kehidupan sosial dan akademik.

 

Piaget (1896) dalam teorinya tentang perkembangan kognitif menyatakan bahwa anak usia 5-6 tahun berada pada tahap pra-operasional, di mana mereka mulai memahami emosi secara lebih kompleks, meskipun masih terbatas dalam memandang perspektif orang lain. Sementara itu, Erikson (dalam Tiara, 2019) melalui teori perkembangan psikososialnya menyatakan bahwa anak usia 5-6 tahun berada pada tahap "inisiatif versus rasa bersalah", di mana dukungan dari lingkungan sangat penting untuk membantu anak mengembangkan inisiatif tanpa rasa bersalah yang berlebihan.

 

Pendekatan emosional dalam pembelajaran anak usia dini menjadi sangat penting karena berkaitan langsung dengan bagaimana guru memahami dan merespons kebutuhan emosional anak. Menurut Lulu (2023), pendekatan emosional adalah upaya untuk menggugah perasaan dan emosi siswa dalam meyakini, memahami, dan menghayati konsep belajar serta memberi motivasi agar peserta didik ikhlas menerima pembelajaran dari guru. Endah (2013) menyatakan bahwa emosi memiliki peranan penting dalam pembentukan kepribadian seseorang, itulah sebabnya pendekatan emosional yang berdasarkan emosi atau perasaan dijadikan sebagai salah satu pendekatan dalam pendidikan dan pengajaran, terutama pada pembelajaran anak usia dini.

 

Beberapa teori utama yang melandasi pendekatan emosional antara lain teori kelekatan dari Ainsworth (1978) yang menekankan pentingnya secure base bagi anak untuk bereksplorasi, teori emotion coaching dari Gottman (1997) tentang strategi membimbing anak dalam mengelola emosi, teori client-centered dari Rogers (1987) tentang pentingnya empati dan penerimaan positif, serta teori kecerdasan emosional dari Goleman (1995) yang menekankan pentingnya kesadaran diri, pengaturan diri, empati, dan keterampilan sosial.

 

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di TK An Namiroh 6 Pekanbaru, ditemukan fenomena adanya anak yang perkembangan emosionalnya tidak sesuai dengan teman seusianya. Beberapa anak menunjukkan perilaku sulit bersabar dalam menunggu giliran, cenderung ingin berkuasa atas temannya, melawan instruksi guru, dan kesulitan bersosialisasi dengan lingkungan sekolah. Kondisi ini berdampak pada proses pembelajaran, di mana anak kesulitan memahami instruksi guru dan kurang mampu berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar.

 

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan pendekatan emosional dalam pembelajaran anak usia 5-6 tahun di Pekanbaru, yang mencakup pemahaman guru tentang pendekatan emosional, strategi yang digunakan, cara guru menanggapi emosi anak, tantangan yang dihadapi, serta dampaknya terhadap perkembangan anak.


Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:

1. Pemahaman guru tentang pendekatan emosional sangat baik, di mana guru memandang pendekatan emosional sama pentingnya dengan aspek kognitif. Guru memahami bahwa membangun kedekatan emosional adalah kunci agar anak mau mendengarkan instruksi dan terlibat aktif dalam pembelajaran.

 

2. Strategi pendekatan emosional yang diterapkan guru meliputi kegiatan pembukaan yang menyenangkan (bernyanyi, bertepuk, ice breaking), komunikasi dua arah yang intensif (menyapa, bertanya kabar), pendampingan individual bagi anak yang membutuhkan perhatian khusus, serta pemanfaatan APE yang bervariasi dan dirotasi secara berkala.

 

3. Cara guru menanggapi emosi anak dilakukan dengan pendekatan personal, mendekati anak yang mengalami ledakan emosi, bertanya dengan empati, dan membantu anak mengekspresikan perasaannya. Guru juga memberikan perhatian khusus pada anak inklusi dengan pendekatan yang lebih telaten.

 

4. Tantangan utama yang dihadapi guru adalah keberagaman karakteristik anak, termasuk kehadiran anak inklusi dalam kelas reguler (3-4 anak per kelas) yang membutuhkan perlakuan khusus dan pendekatan berbeda.

 

5. Dampak positif penerapan pendekatan emosional terlihat pada peningkatan kemampuan regulasi emosi anak (lebih tenang, sabar), perilaku prososial (mau berbagi, mengantri), motivasi belajar (semangat ke sekolah), serta keterbukaan anak (berani bertanya dan bercerita).

DAFTAR PUSTAKA

Ainsworth, M. D. S., Blehar, M. C., Waters, E., & Wall, S. (1978). Patterns of Attachment: A Psychological Study of the Strange Situation. Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum Associates.

 

Bronfenbrenner, U. (1979). The Ecology of Human Development: Experiments by Nature and Design. Cambridge, MA: Harvard University Press.

 

Cresensius Paulus Boli Toba, & Anselmus Yata Mones. (2018). Pengaruh Pendidikan Karakter terhadap Kecerdasan Emosional Remaja Kelas XI di SMA Negeri 1 Malaka Barat Besikama. Perkumpulan Perguruan Tinggi Agama Katolik, 111.

 

Endah Purwanti. (2013). Penggunaan Pendekatan Emosional Dalam Penanaman Nilai-Nilai Akhlak di SD Muhammadiyah Karang Bendo Banguntapan Bantul Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

 

Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. New York: Bantam Books.

 

Gottman, J., & DeClaire, J. (1997). Raising an Emotionally Intelligent Child: The Heart of Parenting. New York: Simon & Schuster.

 

Greenberg, M. T., Kusche, C. A., Cook, E. T., & Quamma, J. P. (1995). Promoting emotional competence in school-aged children: The effects of the PATHS curriculum. Development and Psychopathology, 7(1), 117-136.

Lulu. (2023). Pendekatan Emosional dalam Pembelajaran. Jurnal Pendidikan, 8(2), 45-52.

 

Moleong, L. J. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

 

Nazia Nuril Fuadia. (2022). Perkembangan Sosial Emosi Anak Usia Dini. Jakarta: Balai Diklat Keagamaan.

 

Rogers, C. R. (1987). Client-Centered Therapy: Its Current Practice, Implications, and Theory. London: Constable. (Edisi asli terbit 1951).

 

Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

 

Sujiono, Y. N. (2013). Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: PT Indeks.

 

Sukatin, Nurul Chofifah, Turiana, Mutia Rahma Paradise, Mawada Azkia, & Saidah Nurul Ummah. (2020). Analisis Perkembangan Emosi Anak Usia Dini. Institut Agama Islam Nusantara Batang Hari, 3.

 

Tiara. (2019). Teori Perkembangan Psikososial Erikson dan Implikasinya dalam Pendidikan Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Anak, 5(1), 23-30.

 



 

Komentar

Postingan Populer